Kembali

Legenda Batu Gantung

Air Mata yang Membeku Jadi Legenda

Di sebuah desa kecil yang terletak tak jauh dari Danau Toba, hiduplah seorang ibu bersama anak gadisnya. Kehidupan mereka sederhana, bahkan bisa dikatakan miskin. Setiap hari sang ibu bekerja keras untuk menghidupi mereka berdua. Ia mengambil upahan dari ladang orang lain, mencuci pakaian tetangga, dan menjual hasil kebun seadanya. Meski hidup serba kekurangan, sang ibu tak pernah mengeluh. Semua ia lakukan demi anak semata wayangnya.

Anak gadisnya tumbuh menjadi seorang remaja yang sangat cantik. Wajahnya manis, kulitnya cerah, dan rambutnya panjang berkilau. Banyak pemuda di desa yang terpikat olehnya, namun sang gadis lebih sibuk memikirkan penampilan dan bagaimana agar terlihat anggun di mata orang banyak. Sayangnya, kecantikan itu tidak disertai dengan hati yang lembut. Ia mulai merasa malu terhadap ibunya yang tua, lusuh, dan selalu memakai pakaian yang sudah usang. Ia mulai menjaga jarak setiap kali mereka berada di tempat umum.

Suatu hari, sang ibu mengajak anaknya ke kota untuk menjual hasil kebun ke pasar. Sebelum berangkat, sang ibu menyiapkan bekal dan mengangkat keranjang dagangan. Sementara itu, anak gadisnya justru sibuk berdandan dan memilih pakaian terbaik agar tampak cantik saat sampai di kota. Mereka berjalan jauh melewati jalanan berbatu dan menanjak. Sang ibu kelelahan, tetapi tetap tersenyum. Ia bahagia karena bisa bersama anaknya.

Sesampainya di kota, banyak mata tertuju pada gadis cantik itu. Para pedagang, pembeli, dan orang-orang yang lewat memperhatikannya. Namun saat mereka bertanya, “Siapa wanita tua yang bersamamu?”, sang gadis menjawab dengan suara pelan namun tegas, “Dia bukan ibuku. Dia hanya pembantu.”

Perkataan itu bagaikan petir yang menghantam dada sang ibu. Ia terdiam, tak percaya bahwa anak yang dibesarkannya dengan susah payah tega menyangkali dirinya. Dengan hati remuk, sang ibu berjalan perlahan menuju tepi danau. Di sana, ia menatap langit dan berdoa dengan suara gemetar, “Ya Tuhan, jika benar dia bukan anakku, biarlah aku pergi. Tapi jika dia anakku, hukumlah dia karena telah durhaka.”

Tiba-tiba langit berubah mendung. Angin kencang bertiup, disusul kilat dan gemuruh yang mengguncang danau. Sang gadis terkejut, tubuhnya mulai terasa berat. Ia menjerit meminta maaf, berlari ke arah ibunya, namun tubuhnya tak lagi bisa digerakkan. Kakinya berubah menjadi batu, lalu perlahan tubuhnya membeku dan mengeras. Ia hanya sempat menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca sebelum tubuhnya tergantung kaku di tebing batu.

Hingga kini, batu yang menyerupai tubuh gadis itu masih tergantung di tebing dan dikenal sebagai Batu Gantung. Tempat itu menjadi pengingat bagi siapa saja yang datang, bahwa durhaka kepada orang tua adalah perbuatan yang amat menyakitkan, dan bahwa penyesalan selalu datang terlambat.

Jangan pernah malu terhadap orang tua kita, seburuk atau sesederhana apa pun keadaan mereka. Orang tua adalah sumber kasih sayang sejati yang tak bisa digantikan oleh siapa pun. Perbuatan durhaka kepada orang tua adalah dosa besar yang dapat mendatangkan penyesalan mendalam. Jangan tunggu waktu untuk menunjukkan cinta dan hormat kepada mereka. Cinta orang tua tidak ternilai harganya. Ia hadir tanpa syarat, bertahan tanpa pamrih, dan tak akan pernah tergantikan meski oleh dunia sekalipun.

Mulai Kuis Cerita
footer